SELAMAT HARI KESEHATAN NASIONAL KE 50


Jumat, 06 September 2013

GEJALA KARDINAL DAN KESADARAN


1        Gejala Kardinal
1.1   Jenis Gejala Kardinal
1.1.1        Temperatur / Suhu Tubuh
1.1.1.1              Pengertian
Diartikan sebagai suatu derajat panas yang berada dalam tubuh. Suhu tubuh adalah suatu indikasi sehat atau sakit yang digambarkan derajat panas yang diproduksi tubuh. Suhu untuk metabolisme sel-sel ditetapkan 37 0C. Normal individu 36-37 0C. Suhu kulit tidak sama dengan suhu organ internal.
1.1.2        Temperatur Pusat
Temperatur tubuh paling dalam, ditentukan 3 faktor yaitu:
1.1.2.1              Produksi panas sendiri.
1.1.2.2              Isolasi lingkungan.
1.1.2.3              Kecepatan aliran darah.
1.1.3        Produksi Panas
1.1.3.1              Metabolisme Makanan Dan Aktivitas
Panas dihasilkan melalui metabolisme makanan. Kecepatan metabolisme à BMR.
Penambahan aktivitas seperti latihan akan menambah BMR dan meningkatkan produksi panas.
1.1.3.2              Produksi Tiroksin Meningkat
Dingin à Hipotalamus à Thyrotropine à Kel. Tiroid à Thiroxine à Peningkatan Kecepatan metabolisme sel-sel tubuh à Produksi panas meningkat.
1.1.4        Pelepasan Panas
1.1.4.1              RADIASI à pemindahan panas dari suatu permukaan ke permukaan lain tanpa kontak.
1.1.4.2              KONDUKSI à pemindahan panas temperatur tinggi ke temperatur rendah melalui kontak.
1.1.4.3              KONVEKSI à pergerakan udara dari dekat tubuh yang panas dipindahkan dengan cara mengganti dengan udara dingin.
1.1.4.4              EVAPORASI à pelepasan panas dengan cara penguapan, misal : saluran pernafasan, keringat, air ketuban.
1.1.5        Keseimbangan Produksi Panas dan Panas Yang Dilepas
Organ utama pengatur suhu: HYPOTHALAMUS.
1.1.5.1              HYPOTHALAMUS ANTERIOR
Badan hangat/demam à Hypothalamus anterior à Dilatasi kapiler permukaan tubuh à Darah banyak menuju kapiler permukaan tubuh à Banyak keluar keringat.
1.1.5.2              HYPOTHALAMUS POSTERIOR
Badan dingin à Darah dingin à Hypothalamus posterior à Vasokonstriksi kapiler permukaan tubuh à Darah sedikit menuju permukaan tubuh à Tidak ada sekresi keringat.
1.1.6        Faktor yang Mempengaruhi Temperatur
1.1.6.1              UMUR: Suhu berubah menurut umur.
1.1.6.2              PERUBAHAN WAKTU SEHARI: Suhu berubah 2-30C à Tinggi jam 20.00-23.00, Rendah jam 04.00-06.00 WIB.
1.1.6.3              SEKS: Ovulasi à suhu meningkat 0,3 – 0,5 0C  à Peningkatan BMR.
1.1.6.4              EMOSI: Emosi meningkat à suhu meningkat à begitu sebaliknya.
1.1.6.5              LATIHAN AKTIVITAS: Aktivitas muskuler à suhu akan meningkat.
1.1.6.6              LINGKUNGAN.
1.1.7        Mengukur Suhu Tubuh
Ada 3 metode yaitu : per oral, per rektal dan aksila.
Suhu rektal 0,4 0C lebih tinggi dari oral.
Suhu aksila 0,6 0C dibawah suhu oral.
NORMAL per oral 36,4 - 37,2 0C, rata-rata 37 0C.
NORMAL per rektum 37 – 37,8 0C, rata-rata 37,5 0C.
NORMAL per aksila 35,8 - 37 0C, rata-rata 36,7 0C.
1.1.8        Pengkajian Fisik Tanda Demam
1.1.8.1              Permulaan Tanda Serangan
1.      Adanya keluhan dingin.
2.      Menggigil atau kontraksi otot-otot.
3.      Peningkatan cardiac rate direfleksikan peningkatan nadi.
4.      Kulit dingin pucat akibat vasokonstriksi perifer.
5.      Kontraksi arektor villi ditunjukkan bulu roma berdiri.
6.      Berkurangnya keringat.
7.      Pada anak-anak : suhu sangat tingggi à kejang.
1.1.8.2              Tanda Selama Demam
1.      Lemah dan sakit dari bagian tubuh.
2.      Sakit kepala, lekas marah, bingung, gelisah akibat iritasi SSP.
3.      Anoreksia, mual dan muntah.
4.      Klien mengeluh panas & dingin.
5.      Kulit terasa panas bila disentuh.
6.      Vasodilatasi  perifer, muka merah.
7.      Dehidrasi membran mukosa.
8.      Demam lama à kehilangan BB.
1.1.8.3              Tanda Terminasi
1.      Diaphoresis.
2.      Suhu turun.
3.      Possible dehidrasi.
1.1.8.4              Intervensi
1.      Menggigil à Berikan selimut.
2.      Diaphoresis à Tingkatkan sirkulasi ruangan.
3.      Cegah dehidrasi à Tingkatkan asupan cairan.
4.      Catat intake & output.
5.      Monitor TTV.
1.2    Denyut Nadi
1.2.1        Pengertian
Denyut nadi adalah ketukan / dorongan ringan yang dapat diraba atau dirasakan pada arteri akibat mengembangnya aorta.
Mengembangnya aorta menghasilkan gelombang di dinding sistem aorta jika diraba, dirasakan sebagai dorongan atau ketukan ringan disebut denyut.
Setiap kali bilik kiri jantung menegang untuk menyemprotkan darah ke aorta yang sudah penuh dinding arteri dalam sistem peredaran darah mengembang atau mengembung.
Pusat pengatur denyut adalah NODUS SINOATRIAL atau NODUS SINOAURICULER yang letaknya pada serambi kanan jantung.
1.2.2        Kecepatan Denyut Nadi Normal


 









1.2.3        Perubahan Kecepatan Denyut Nadi
1.2.3.1              Adanya rangsangan pada saraf simpatik dan parasimpatik.
1.2.3.2              Sitem emosi : takut, marah, kaget dan cemas.
1.2.3.3              Latihan fisik dan olah raga.
1.2.3.4              Kulit terlalu lama kena panas.
1.2.3.5              Suhu naik 0,6 0C atau 1 0F, denyut meningkat 7-10 x/menit.
1.2.3.6              Denyut > 100 x/menit disebut TACHIYCARDIA.
1.2.3.7              Denyut < 60 x/menit disebut BRADYCARDIA.
1.2.4        Irama Denyut
1.2.4.1              Irama denyut normal adalah selang waktu antara denyut yang satu dengan berikutnya sama.
1.2.4.2              Arrhytmia adalah irama denyut tak teratur.
1.2.4.3              Pulsus Intermittens, adalah denyut yang mengalami periode irama normal kemudian tak teratur.
1.2.4.4              Dicrotic Pulse (Denyut nadi kembar), gelombang denyut terasa 2 denyut waktu diraba.
1.2.4.5              Bigeminal Pulse adalah dua kontraksi teratur disusul berhenti.
1.2.4.6              Denyut Prematur, kontraksi jantung yang terjadi sebelum adanya denyut normal, dimanifestasikan berdebar-debar.
1.2.5        Volume Denyut
Adalah darah yang terasa mengalir melalui pembuluh darah. Denyut mudah dihilangkan dengan tekanan diatas arteri.
Bounding atau denyut terbatas adalah bila volume darah sulit menghilangkan denyut.
Denyut mudah hilang disebut denyut lemah atau feeble atau pulsus filiformis.
1.2.6        Lokasi untuk Mengukur Denyut
Arteri temporalis, Arteri karotis, Arteri apikal, Arteri brachialis, Arteri radialis, Arteri ulnaris, Arteri femoralis, Arteri poplitea, Arteri posterior tibial,Arteri dorsalis pedis.
1.2.7        Apikal Rate
Apical Rate à kecepatan denyut yang dihitung pada apex jantung dan nadi radial secara serempak. Hal ini dilakukan oleh 2 orang, seorang mendengarkan denyut apex, yang lain mengukur denyut radial. Hitungan apical dan radial dicatat, denyut ini dilakukan bila denyut radial lemah atau tidak teraba.
1.3    Pernafasan
Pusat pernafasan berada di Medula Oblongata.
1.3.1        Fisiologi Pernafasan
Pernafasan paru atau pernafasan eksternal ada 4 proses yaitu:
1.3.1.1              Ventilasi pulmoner, gerakan nafas untuk menukar udara dalam alveoli dengan udara luar.
1.3.1.2              Arus darah melalui paru-paru, CO2 dan darah ke paru-paru.
1.3.1.3              Difusi gas menembus membran alveoli dan kapiler, CO2 lebih mudah berdifusi dengan O2.
1.3.1.4              Distribusi arus udara dan arus darah à mencapai semua bagian tubuh.
1.3.2        Kecepatan Bernafas
NORMAL à kecepatan bernafas 16-20 x/menit.


 








1.4    Tekanan Darah
1.4.1        Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Darah
1.4.1.1              TAHANAN PERIFER: Arteri mempunyai sistem tekanan tinggi, vena dan kapiler mempunyai sistem tekanan rendah. Arteriola menguncup kecil darah yang mengalir berkurang.
1.4.1.2              GERAKAN MEMOMPA DARAH JANTUNG: Semakin banyak darah di pompa ke arteri (isi sekuncup bertambah) lebih menggelembung à TD meningkat. Sedikit darah di pompa isi sekuncup berkurang à TD turun.
1.4.1.3              VOLUME DARAH: Volume darah rendah akibat perdarahan à TD turun.
1.4.1.4               VIKOSITAS DARAH: Semakin kental darah à semakin tinggi TD, karena semakin banyak tenaga untuk mendorong
1.4.1.5              ELASTISITAS DINDING PEMBULUH DARAH: Arteri mengandung sejumlah besar jaringan elastis yang lentur. Jantung istirahat à dinding arteri mengerut. Pembuluh yang elastisitasnya sedikit memberikan banyak penolakan di banding dengan pe,buluh yang elastisitasnya besar. Contoh : pada arteriosklerosis TD bertambah.
1.4.2        Tekanan Darah Normal





1.4.3        Mengukur Tekanan Darah
Alat untuk mengukur TD adalah : Sfimomanometer, Manometer Aneroid dan Stateskop.
      Suara yang didengarkan oleh perawat waktu mengukur TD disebut suara KOROTKOFF, dimana ada 5 yaitu :
1.4.3.1              Suara KOROTKOFF I, adalah bunyi pertama terdengar dicatat sebagai tekanan sistolik, sifatnya lemah, nada tinggi terdengar : tek, tek ...
1.4.3.2              Suara KOROTKOFF II, adalah bunyi seperti K I disertai bising; teksst, teksst ...atau tekrrd, tekrrd.
1.4.3.3              Suara KOROTKOFF III, adalah bunyi berubah keras, nada rendah, bising; deg, deg ...
1.4.3.4              Suara KOROTKOFF IV, adalah saat pertama kali bunyi jelas melemah; de:g, de:g ..., deg, deg...
1.4.3.5              Suara KOROTKOFF V, dicatat sebagai tekanan diatolik adalah saat bunyi hilang.
Catatan :
Nilai sistolik diambil dari suara KOROTKOFF I.
Nilai diastolik diambil dari suara KOROTKOFF V.
KECUALI
Pada anak kecil
Pada keadaan suara K V terus terdengar walaupun permukaan air raksa sudah sampai  angka 0 (Nol), pada keadaan diatas digunakan K IV untuk pencatatan nilai diastolik.
2        Guna Gejala Kardinal
2.1    Menggambarkan fungsi tubuh secara umum dengan tepat.
2.2    Mengetahui kelainan fungsi tubuh yang tak dapat diamati.
3        Variasi Gejala Kardinal
Tergantung pada :
3.1   Umur.
3.2    Jumlah kegiatan.
3.3    Perubahan waktu sehari.
3.4     Status emosi.
3.5    Makanan.
3.6    Seks.
4        Tekhnik Pengambilan
4.1   Inspeksi à Melihat.
4.2    Palpasi à Memegang.
4.3    Auskultasi à Mendengar.























2     Kesadaran
Kesadaran merupakan keadaan yang mencerminkan pengintegrasian impuls aferen dan eferen. Gangguankesadaran, yaitu keadaan dimana tidak terdapat aksi dan reaksi, walaupun diransang secara kasar.
1.1     Tingkat kesadaran :
1.1.1   Kompos mentis : sadar sepenuhnya baik terhadap dirinya maupun lingkungan. Pada kompos mentis ini aksi dan reaksi bersifat adekuat yang tepat dan sesuai.
1.1.2   Apatis : keadaan pasien yang tampak segan dan acuh tak acuh terhadap lingkungan.
1.1.3   Delirium : penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik dan siklus tidur bangun yang terganggu. Pasien tampak gelisah, kacau, disorientasi dan meronta-meronta.
1.1.4   Somnolen (letargi, obtundasi, hipersomnia) : mengantuk yang masih dapat dipulihkan bila diberi ransangan tapi saat ransangan dihentikan, pasien tertidur lagi. Pada somnolen jumlah jam tidur meningkat dan reaksi psikologis lambat.Soporous/stupor : keadaan mengantuk yang dalam.
1.1.5   Pasien masih dapat dibangunkan dengan ransangan kuat tetapi pasien tidak terbangun sempurna dan tidak dapat memberijawaban verbal yang baik. Pada soporous/stupor reflek kornea dan pupil baik, BAB dan BAK tidak terkontrol. Stupor disebabkan oleh disfungsi serebral organic difus.
1.1.6   Semi koma : penurunan kesadaran yang tidak member respon terhadap ransangan verbal dan tidak dapat dibangunkan sama sekali, tapi reflek kornea dan pupil masih baik.
1.1.7   Koma : penurunan kesadaran yang sangat dalam, tidak ada gerakan spontan dan tidak ada respon terhadap nyeri.Derajat kesadaran yang paling rendah yaitu koma. Koma terbagi dalam :
1.1.8   Koma supratentorial diensephalik : merupakan semua proses supratentorial yang mengakibatkan destruksi dan kompresi pada substansia retikularis diensefalon yang menimbulkan koma. Koma supratentorial diensephalik dapat dibagi dalam 3 golongan, yaitu :
1.1.8.1  Proses desak ruang yang meninggikan tekanan dalam ruang intracranial supratentorial secara akut.
1.1.8.2  Lesi yang menimbulkan sindrom ulkus.
1.1.8.3  Lesi supratentorial yang menimbulkan sindrom kompresi rostrokaudal terhadap batang otak.
1.1.9   Koma infratentorial diensefalik, disini terdapat 2 macam proses patologik yang menimbulkan koma :
1.1.9.1  Proses patologik dalam batang otak yang merusak substansia retikularis.Proses diluar batang otak yang mendesak dan mengganggu fungsi substansia retikularis.
1.1.9.2  Koma infratentorial akan cepat timbul jika substansia retikularis mesensefalon mengalami gangguan sehingga tidak bisa berfungsi baik. Hal ini terjadi akibat perdarahan. Dimana perdarahan di batang otak sering merusak tegmentum pontis dari pada mesensefalon.
1.1.10      Koma bihemisferik difus : terjadi karena metabolism neural kedua belah hemsferium terganggu secara difus. Gejala yang ditimbulkannya yaitu dapat berupa hemiparesis, hemihiperestesia, kejang epileptic, afasia, disatria, dan ataksia, serta gangguan kualitas kesadaran.
                 Derajat kesadaran lainnya yaitu tidur. Tidur merupakan suatu derajat kesadaran yang berada dibawah keadaan awas-waspada dan merupakan fisiologik yang ditentukan oleh aktivitas bagian-bagian tertentu dari substansia retikularis. Tidur secara patologis yaitu keadaan tidur dan berbagai mecam keadaan yang menunjukkan daya bereaksi dibawah derajat awas-waspada, diantaranya letargi, mutismus akinetik, stupor, dan koma.
1.2         Gangguan tidur terdiri atas hipersomnia dan insomnia :
1.2.1   Hipersomnia (kebanyakan tidur) merupakan gejala keadaan patologik yang dibedakan dalam :
1.2.1.1  Hipersomnia karena proses patologik diotak, seperti ensefalitis dan tumor serebri.
1.2.1.2  Hipersomnia karena proses patologik sistemik, seperti hiperglikemia atau uremia.
1.2.2   Insomnia (tidak bisa tidur) merupakan gejala sekunder beberapa jenis psikoneurosis yang dapat timbul sebagai :
1.2.2.1  Insomnia primer, yaitu penderita tidur tapi tidak merasa tidur.
1.2.2.2  Insomnia sekunder akibat psikoneurosis yang umumnya punya banyak keluhan non organic, sakit kepala, perut kembung, badan pegal, dll.
1.2.2.3  Insomnia sekunder akibat penyakit organic, yaitu penderita tidak bisa tidur karena saat tertidur, ia diganggu oleh penderitaan organic. Misalnya seperti penderita diabetes mellitus yang sering terbangun karena sering kencing, atau penderita ulkus duodeni yang sering terbangun karena mules dan lapar pada tengah malam, atau penderita arthritis reumatika yang mudah terbangun oleh nyeri yang timbul pada setiap perubahan sikap badan.
1.3         Gangguan tidur fungsional, yaitu diantaranya :
1.3.1   Somnambulisme, yaitu berjalan dalam keadaan tidur.
1.3.2   Sleep automatism, yaitu berjalan sambil melakukan suatu perbuatan yang bertujuan dalam keadaan tidur. Misalnya membereskan koper seperti orang yang ingin bepergian tapi dalam keadaan tidur.
1.3.3   Kekau, yaitu berbicara dalam keadaan tidur yang biasanya terkait dengan mimpi.
1.3.4   Kejang nokturnus atau mioklonus nokturnus, yaitu saat tidur, ia terbangun kembali karena anggota geraknya berkejang sejenak.
1.3.5   Paralisis nokturnus, yaitu perasaan lumpuh seluruh tubuh yang dialami sebagai kenyataan dan menghilang serentak saat mata dapat dibuka.
1.4         Etiologi, pathogenesis, gambaran klinis, dan terapi trauma susunan saraf pusat
       “Trauma merupakan penyebab utama kematian pada populasi dibawah umur 45 tahun dan merupakan penyebab kematian no. 4 pada seluruh populasi. Lebih dari 50% kematian disebabkan oleh cidera kepala. Kecelakaan kendaraan bermotor menrupakan penyebab cedera kepala pada lebih dari 2 juta orang setiap tahunnya, 75.000 orang meninggal dunia dan lebih dari 100.000 orang yang selamat akan mengalami disabilitas permanent”. Trauma capitis adalah gangguan traumatic yang menyebabkan gangguan fungsi otak disertai atau tanpa disertai perdarahan in testina dan tidak mengganggu jaringan otak tanpa disertai pendarahan in testina dan tidak mengganggu jaringan otak.
1.4.1         Tipe-Tipe Trauma :
1.4.1.1       Trauma Kepala Terbuka: Faktur linear daerah temporal menyebabkan pendarahan epidural, Faktur Fosa anterior dan hidung dan hematom faktur lonsitudinal. Menyebabkan kerusakan meatus auditorius internal dan eustachius.
1.4.1.2       Trauma Kepala Tertutup:
1.      Comosio Cerebri, yaitu trauma Kapitis ringan, pingsan + 10 menit, pusing dapat menyebabkan kerusakan struktur otak.
2.      Contusio / memar, yaitu pendarahan kecil di jaringan otak akibat pecahnya pembuluh darah kapiler dapat menyebabkan edema otak dan peningkatan TIK.
3.      Pendarahan Intrakranial, dapat menyebabkan penurunan kesadaran, Hematoma yang berkembang dalam kubah tengkorak akibat dari cedera otak. Hematoma disebut sebagai epidural, Subdural, atau Intra serebral tergantung pada lokasinya.
1.4.2        Ada berbagai klasifikasi yang di pakai dalam penentuan derajat kepala.
1.4.2.1      Cidera kepala ringan/minor (kelompok resiko rendah).
1.      Skor skala koma Glasglow 15 (sadar penuh,atentif,dan orientatif).
2.      Tidak ada kehilangan kesadaran(misalnya konkusi).
3.      Tidak ada intoksikasi alkohaolatau obat terlarang.
4.      Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing.
5.      Pasien dapat menderita abrasi,laserasi,atau hematoma kulit kepala.
6.      Tidak adanya kriteria cedera sedang-berat.
1.4.2.2       Cidera kepala sedang (kelompok resiko sedang).
1.      Skor skala koma glasgow 9-14 (konfusi, letargi atau stupor).
2.      Konkusi.
3.      Amnesia pasca trauma.
4.      Muntah.
5.      Tanda kemungkinan fraktur kranium (tanda battle,mata rabun,hemotimpanum,otorhea atau rinorhea cairan serebrospinal).
1.4.2.3       Cidera kepala berat (kelompok resiko berat).
1.      Skor skala koma glasglow 3-8 (koma).
2.      Penurunan derajat kesadaran secara progresif.
3.      Tanda neurologis fokal.
4.      Cidera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresikranium.
1.4.3        Jenis-jenis cidera kepala
1.4.3.1      Cidera kulit kepala. Cidera pada bagian ini banyak mengandung pembuluh darah, kulit kepala berdarah bila cidera dalam. Luka kulit kepala maupun tempat masuknya infeksi intrakranial. Trauma dapat menyebabkan abrasi, kontusio, laserasi atau avulsi.
1.4.3.2      Fraktur tengkorak. Fraktur tengkorak adalah rusaknya kontinuitas tulang tengkorak di sebabkan oleh trauma. Adanya fraktur tengkorak biasanya dapat menimbulkan dampak tekanan yang kuat. Fraktur tengkorak diklasifikasikan terbuka dan tertutup. Bila fraktur terbuka maka dura rusak dan fraktur tertutup keadaan dura tidak rusak.
1.4.3.3      Cidera Otak serius dapat tejadi dengan atau tanpa fraktur tengkorak, setelah pukulan atau cidera pada kepala yang menimbulkan kontusio, laserasi dan hemoragi otak. Kerusakan tidak dapat pulih dan sel-sel mati dapat diakibatkan karena darah yang mengalir berhenti hanya beberapa menit saja dan kerusakan neuron tidak dapat mengalami regenerasi.
1.4.3.4      Komosio umumnya meliputi sebuah periode tidak sadarkan diri dalam waktu yang berakhir selama beberapa detik sampai beberapa menit. Komosio dipertimbangkan sebagai cidera kepala minor dan dianggap tanpa sekuele yang berarti. Pada pasien dengan komosio sering ada gangguan dan kadang efek residu dengan mencakup kurang perhatian, kesulitan memori dan gangguan dalam kebiasaan kerja.
1.4.3.5      Kontusio  serebral merupakan didera kepala berat, dimana otak mengalami memar, dengan kemungkinan adanya daerah haemoragi. Pasien tidak sadarkan dari, pasien terbaring dan kehilangan gerakkan, denyut nadi lemah, pernafsan dangkal, kulit dingin dan pucat, sering defekasi dan berkemih tanpa di sadari.
1.4.3.6      Haemoragi intrakranial. Hematoma (pengumpulan darah) yang terjadi di dalam kubah kranial adalah akibat paling serius dari cidera kepala, efek utama adalah seringkali lambat sampai hematoma tersebut cukup besar untuk menyebabkan distorsi dan herniasi otak serta peningkatan TIK.
1.4.3.7      Hematoma epidural (hamatoma ekstradural atau haemoragi). Setelah cidera kepala, darah berkumpul di dalam ruang epidural (ekstradural) diantara tengkorak dan dura. Keadaan ini karena fraktur tulang tengkorak yang menyebabkan arteri meningeal tengah putus /rusak (laserasi), dimana arteri ini berada di dura dan tengkorak daerah inferior menuju bagian tipis tulang temporal; haemoragi karena arteri ini menyebabkan penekanan pada otak.
1.4.3.8      Hematoma sub dural adalah pengumpulan darah diantara dura dan dasar, suatu ruang yang pada keadaan normal diisi oleh cairan. Hematoma sub dural dapat terjadi akut, sub akut atau kronik. Tergantung ukuran pembuluh darah yang terkena dan jumlah perdarahan yang ada. Hematoma sub dural akut d hubungkan dengan cidera kepala mayor yang meliputi kontusio dan laserasi. Sedangkan Hematoma sub dural sub akut adalah sekuele kontusio sedikit berat dan di curigai pada pasien gangguan gagal meningkatkan kesadaran setelah trauma kepala. Dan Hematoma sub dural kronik dapat terjadi karena cidera kepala minor dan terjadi paling sering pada lansia.
1.4.3.9      Haemoragi intraserebral dan hematoma. Hemoragi intraserebral adalah perdaraan ke dalam substansi otak. Haemoragi ini biasanya terjadi pada cidera kepala dimana tekanan mendesak ke kepala sampai daerah kecil (cidera peluru atau luka tembak; cidera kumpil).
1.5     Tanda dan Gejala
         Tanda dan gejala cedera kepala dapat dikelompokkan dalam 3 kategori utama :
1.5.1   Tanda dan gejala fisik/somatik: nyeri kepala, dizziness, nausea, vomitus.
1.5.2   Tanda dan gejala kognitif: gangguan memori, gangguan perhatian dan berfikir kompleks.
1.5.3   Tanda dan gejala emosional/kepribadian: kecemasan, iritabilitas.
1.6         Pemeriksaan Dianostik:
1.6.1   CT –Scan : mengidentifikasi adanya sol, hemoragi menentukan ukuran ventrikel pergeseran cairan otak. MRI : sama dengan CT –Scan dengan atau tanpa kontraks.
1.6.2   Angiografi Serebral : menunjukkan kelainan sirkulasi serebral seperti pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan dan trauma.
1.6.3   EEG : memperlihatkan keberadaan/ perkembangan gelombang.
1.6.4   Sinar X : mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (faktur pergeseran struktur dan garis tengah (karena perdarahan edema dan adanya frakmen tulang).
1.6.5   BAER (Brain Eauditory Evoked) : menentukan fungsi dari kortek dan batang otak.
1.6.6   PET (Pesikon Emission Tomografi) : menunjukkan aktivitas metabolisme pada otak.
1.6.7   Pungsi Lumbal CSS : dapat menduga adanya perdarahan subaractinoid.
1.6.8   Kimia/elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang berpengaruh dalam peningkatan TIK.
1.6.9   GDA (Gas Darah Arteri) : mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang akan dapat meningkatkan TIK.
1.6.10    Pemeriksaan toksitologi : mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab terhadap penurunan kesadaran.
1.6.11    Kadar antikonvulsan darah : dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat terapi yang cukup efektif untuk mengatasi kejang.
1.7    Penatalaksanaan Medik
Penatalaksanaan medik cedera kepala yang utama adalah mencegah terjadinya cedera otak sekunder. Cedera otak sekunder disebabkan oleh faktor sistemik seperti hipotesis atau hipoksia atau oleh karena kompresi jaringan otak. Pengatasan nyeri yang adekuat juga direkomendasikan pada pendertia cedera kepala.
Penatalaksanaan umum adalah sebagai berikut :
1.7.1        Nilai fungsi saluran nafas dan respirasi.
1.7.2        Stabilisasi vertebrata servikalis pada semua kasus trauma.
1.7.3        Berikan oksigenasi..
1.7.4        Awasi tekanan darah.
1.7.5        Kenali tanda-tanda shock akibat hipovelemik atau neuregenik.
1.7.6        Atasi shock.
1.7.7        Awasi kemungkinan munculnya kejang.














Tidak ada komentar: